Siapa dia? Tak pernah terlihat

Gadis tak kukenal, yang wajahnya menarik hati. Sifat lelaki.

Pertama kali ku tau dia lewat aplikasi media sosial, pertama kali ku tau dia ada di kru yang sama. Tak pernah bertemu langsung sebelumnya padahal ada di kru yang sama. Padahal dia ada disana tapi aku tak sadar. Padahal kita tampil di event yang sama tapi tak hafal ada dia disana. Padahal dia orang penting di kru tapi aku tak sadar. Padahal kita latihan bersama tapi aku tak sadar. Kita belum kenal.

Terus aku pandangi grup obrolan di aplikasi tersebut mencari dan menunggu namanya muncul di obrolan. Aku penasaran. Kuperiksa daftar anggota grup, mencari namanya. Foto profilnya beramai-ramai. Kuhafal satu-satu nama temannya, dan menebak yang mana dia. Kupastikan orangnya di foto tersebut, dengan yakin. Berhari-hari, berminggu-minggu. Penasaran, ingin memiliki. Sifat lelaki.


Aku sudah punya pasangan saat itu, tapi aku penasaran. Hanya sekedar ingin tau yang mana. Akhirnya kuabaikan gadis itu, mungkin nanti bertemu. Aku putus dengan pasanganku. Dua bulan putus, ku coba dekati yang lain, gagal. Tiga bulan putus masih belum hilang ingatan tentang mantan itu. Iseng mengatur ulang aplikasi media sosial tersebut, dengan tujuan mengurangi memori handphone. Kupikir gampang, akunnya akan pulih kembali seperti biasa, ternyata tidak. Proses log-in yang baru ternyata cukup sulit. Dan akhirnya kuhapus saja akun aplikasi itu, karena aku punya dua akun. Dan hilanglah datanya, termasuk keluarlah aku dari grup obrolan yang ada si Gadis ini. Untung saja ada sahabatku di dalam keanggotaan grup, jadi bisa diatur kedepannya. Lima bulan, aku pulang kerumah, liburan semester. Sudah lumayan menghilang tentangnya.

Agustus, semester baru. Jadwal baru. Pikiran baru. Hampir semua baru. Satu yang tidak, kepribadian. Kuliah, kuliah, dan kuliah. September, entah kenapa teringat si Gadis ini lagi. Ingin kudekati. Kupikir mungkin kisah cintaku akan lancar. Dan memang aku ingin memilikinya. Ya sebagaimana lelaki ketika melihat gadis cantik. Kupikir kenapa tidak dicoba saja. Tak tau hasilnya jika tak mencoba, tak ada yang salah dengan mencoba.

Kuhubungi si Sahabat ini, pas sekali dia sedang ada ditempatnya yang tidak jauh. Langsung saja, kuhampiri dengan dalih berkunjung karena sudah tidak sekamar lagi. Kucuri kesempatan mengirim kontaknya ke akun-ku. Berhasil. Sejenak berpikir, kalau aku tambahkan sebagai teman, pasti ada pemberitahuan di akun si Gadis ini. Dan aku malu jika dia tau. Aku berpikir kalau dia pasti curiga, ‘untuk apa anak ini menambahkanku sebagai teman padahal tak pernah bertemu atau pun mengobrol’. Tapi aku cuek dan kutambahkan sebagai teman. Dan akhirnya bisa melihatnya lagi.

Suatu malam di kontrakan teman, kami mabuk. Temanku berkata, ‘Ada cewe cakep ga? Liat dong daftar kontaknya’, ‘Ada nih liat aja’ kubalas. Dan dia hubungi semua wanita cantik yang ada di kontakku, damn. Dan dia bertanya, ‘Ada yang lagi lu incer ga?’, ‘Ga ada sih tapi suka ama yang ini nih’, ‘Oh yang itu, cakep juga’, ‘Gue chat aja apa ya? Ah chat aja ah’.

Tak berapa lama, ternyata dibalas. Entah kenapa, tingkat kepercayaan diri meningkat malam itu sehingga berani menghubungi si Gadis ini. Mungkin pengaruh alkohol. Dia membalas obrolan ku, dengan santai kubalas ala lelaki jantan dan mengajaknya bertemu makan siang esok harinya. Dimana malu ku? Tak tau kemana. Setengah sadar setengah mabuk, ditengah malam. Aku yang belum pernah bertemu atau mengobrol, dengan percaya dirinya untuk pertama kalinya mengajak bertemu dan makan siang, tentu saja dia menolak, dengan halus. Kupaksa terus dan dia tetap menolak. Lelaki apa itu namanya yang berani ketika mabuk?

Siang harinya, dengan setengah percaya diri ku hubungi dia dan membahas yang semalam, dan masih berusaha mengajak keluar, dengan setengah percaya diri. Tentu, dia menolak. Siapa saya? Orang asing. Esoknya aku masih dikampus sampai malam karena ada kerjaan. Ketika mengambil waktu istirahat, tak sengaja bertemu dengan teman-teman dari kru ini. Waktu itu sudah lama tak kumpul dengan mereka, dan tak tau kabar terbaru dari kru. Ternyata mereka mengadakan rapat komunitas malam itu. Tak sengaja bertemu dengan si Gadis ini. Malunya saya luar biasa ketika dia juga hadir di rapat itu. Di landa perasaan malu tapi tak ingin pergi dari situ karena penasaran dengan wajahnya dan juga ini pertama kali kumpul setelah sekian lama. Pertama kali kami bertatapan, bertemu fisik, dan itulah pertama kali melihatnya. Ingin menyapa minta maaf tetapi ragu, masih malu. Sudah sadar pikiranku saat itu. Hina.

Entah malamnya atau keesokan harinya, baru aku menyapanya lagi lewat obrolan media, minta maaf atas kejadian malam itu ketika mabuk. Suatu malam lagi, ketika sedang makan sate yang hambar ditengah malam, aku lihat dia bersama temannya yg kukenal juga di gerobak warkop sebelah, samar-samar. Tapi kupastikan itu dia. Sengaja kupercepat makan dan sengaja kuhampiri warkop itu dengan dalih beli minum dan makanan ringan, dan menyapa temannya, bukan dia. Ternyata dia sadar dan menyapa duluan setelah lama memandangi, ‘Hey tito!’, ‘Iyalah siapa lagi’ dengan angkuh kubalas. Dasar ego.

Selang satu atau dua minggu kuhubungi lagi sambil berharap. Kuhubungi untuk mengajaknya keluar. Dan ternyata dia menerimanya! Nikmat mana yang kau dustakan? Apakah ini hukuman atau rezeki, aku tak tau. Dan hubungan kami lancar setelah itu, seperti air mengalir.

Aku pun heran, apa ini, setelah kejadian itu, dan dia menerima ajakan ku. Kumanfaatkan saja untuk semakin mengenalnya dan mendekatinya. Tak kurasa ada saingan dari manapun. Entah ini hadiah dari tuhan atau apa. Tapi hadiah atas apa? Mungkin jawaban atas doa ku, ‘Kucoba saja, gagal tak ada ruginya. Setidaknya aku mengenalnya.’.

Hubungan kami berlanjut semakin lama, berhari, berminggu. Manisnya masa pendekatan kurasakan. Kumulai tau sedikit banyak tentangnya, bagaimana dirinya, apa yang telah dilakukannya dulu dan sekarang. Tepat sebulan kurang satu hari, aku pastikan dia jadi milikku. Dengan mantap aku tanya kepadanya, apakah dia ingin jadi milikku atau tidak. Ya, dia terima, dia ingin kumiliki, ditengah bulan Desember. Puji tuhan semuanya lancar sampai saat kupastikan dia jadi milikku. Tapi kata orang-orang, menjalin hubungan itu manisnya hanya saat pendekatan saja. Memang benar, tapi itu manis yang palsu, semua manis tersebut dirangkai agar prosesnya mulus untuk mendapatkan sang kekasih. Manis yang asli adalah ketika kau masih bertahan dengannya ketika konflik datang secara teratur dan berurutan dan dengan mantap menyelesaikan masalah tersebut berdua, mencari solusinya. Ketika kau mengenang akan hal itu, disaat itulah kau rasakan manis yang sebenarnya.

Dan memang benar hubungan kami cukup berkonflik setelah hari di bulan Desember tersebut. Dan mulai saat itu juga kutau sifat asli dan bagaimana watak gadis itu. Dia juga bilang kalau dia itu bukan wanita baik-baik. Kupikir biarkan saja, aku tak perduli. Memang kadang suka bikin sakit hati melihat kelakuannya yang masih merasa dirinya tak berpasangan. Ya wajar saja, dua tahun sejak terakhir kali menjalin hubungan, dan empat tahun menahan rasa di dalam tubuh, tak terungkapkan kepada lelaki yang ia kagumi disana dijaman SMA. Empat tahun, kuat sekali sepertinya rasa cintanya untuk lelaki itu. Dan selama itu pula dia cukup bermain hati dengan pria yang mendekatinya, hanya untuk mengisi waktu luang, tak untuk serius menjalin hubungan. Jadilah hati dan perasaannya belum terbiasa kembali dengan sebuah hubungan.

Empat tahun, selama itu dia menahan perasaannya, sampai bertemu denganku. Aku merasa terberkahi menjadi lelaki yang menyadarkannya. Dia bilang, ternyata hatinya masih berfungsi untuk bisa menerima seorang yang lain di dalam kehidupannya. Dan akupun datang disaat yang tepat, katanya. Jadilah usahaku lancar.

Kutanya kenapa menerimaku, dia bilang ingin berkomitmen. Dia bilang aku beda dengan lelaki yang mendekatinya sebelum aku. Apa bedanya? Dia dan tuhan yang tau. Kukatakan juga aku ingin berkomitmen, sungguh, saat itu 60%-70% kadar kepercayaan diri untuk berkomitmen. Karena aku masih trauma dengan hubunganku sebelum ini.

Sebulan, konflik. Dua bulan, hampir konflik. Tiga bulan, konflik. Masih saja kami tetap bersama, memperjuangkan hubungannya ini. Entah kenapa kami masih bertahan. Padahal kalau dipikir, berapa kali sudah kukecewakan dirinya.

Pernah dia ragu denganku di bulan pertama kami menjalin kasih. Karena memang aku sadar aku sedikit malas-malasan dengannya dan hubungan ini. Seperti kata orang-orang jika sudah dapat, tak akan seberusaha dulu. Tapi aku tak mau begitu.

Ada satu lelaki ini, yang baru dikenalnya dan jadi sangat akrab. Katanya terasa seperti teman lama, padahal baru kenal. Bukan teman lama bukan pula orang yang kukenal. Mereka bertemu ketika dia kuajak berkunjung disalah satu kost temanku. Si Lelaki ini selalu ada disaat konflik menghampiri kami. Bagaimana aku tidak jengkel, setiap konflik datang dia selalu ada untuk menenangkan kekasihku. Apa itu namanya kalau tidak mengincar posisi dihati si Gadis ini. Dan dia selalu lama meresponku kalau sudah bersama lelaki itu. Itu berlangsung kira-kira di dua bulan awal hubungan kami.

Datanglah saudara sepupuku berkunjung dari kota sebelah, kuajak mereka berkeliling kota. Dan makan malam di salah satu cafe ternama di kota ini. Terganggulah jadwal kami untuk malam itu. Jadi kukatakan pada si Gadis ini dan lebih memilih melayani mereka karena mereka saudaraku. Dia mengiyakan. Dia juga bilang akan keluar dengan si Lelaki ini dari siang, mencari buku. Aku iyakan.

Malamnya ketika aku sedang makan dengan saudaraku, kami masih berkabar. Tiba-tiba dia bertanya aku makan dimana, di cafe yang di cabang satunya. Dia tak membalas. Kulihat dia merubah foto profil pesan instannya. Kutebak dia sedang dimana, berdasarkan pertanyaannya tadi, ‘Kamu makan di cabang yang mana?’. Bergegas ku ajak saudaraku pindah tempat, karena kami juga sudah mulai bosan disana. Setelah sampai di cafe yang di cabang satunya, benar saja dia sedang ada disana. Tak salah firasatku. Kusapa mereka, mereka terkejut kenapa bisa berada di tempat yang sama. Setelah menunggu agak lama karena cafe tersebut sedang penuh. Kami dapat tempat. Aku duduk dan memesan menu. Aku sangat tertarik pada malam itu. Memergoki mereka berdua sekalian mengukuhkan aku adalah pasangan gadis ini. Si Gadis biasa saja memang dia tak merasa bersalah karena memang sudah berkabar denganku, aku juga tak masalah. Tapi aku penasaran dengan perasaan lelaki ini.

Aku kembali mengobrol dengan manusia berdua ini, dan samar-samar sepertinya kulihat manajer grup bandku yang dulu. Aku sapa dan dia terkejut, dia sendiri, kuajak bergabung satu meja denganku. Kukenalkan dengan manusia berdua ini, kukenalkan ini temanku, dan ini pasanganku. Dan manajer ini terheran-heran kenapa pasanganku pergi dengan lelaki lain dan tidak denganku. Kuceritakan semuanya. Dia paham.

Ternyata di cafe malam itu penuh dengan orang yang kukenal.

Beberapa hari setelahnya, aku bertanya ke gadis ini bagaimana lelaki itu. Dia bilang meraka sudah jarang mengobrol setelah kejadian malam itu. Dia juga bilang sepertinya lelaki ini sudah sadar posisinya dimana. Akhir-akhir ini gadis ini merasa ada yang berubah dengan lelaki yang ia anggap seperti teman lama. Tak sehangat dulu. Tak seramah dulu. Tak sepeduli dulu. Sudah kubilang padanya, tak mungkin baru kenal dan bisa seakrab itu jika tak ada maksud lain. Baru dia sadar disana. Dan dia rindu padanya, aku tak masalah. Aku sudah yakin dengan hubungan kami.

Tibalah dimalam ini ketika hubungan kami beranjak tiga bulan, dia lepas kendali akan dirinya dan itu disebabkan oleh rasa kecewanya atas diriku. Kalian boleh menyalahkan aku atas hal yang satu ini. Tapi entah kenapa aku terkejut melihat kelakuannya yang begitu tak masuk di akalku. Sampai berhari-hari kupikirkan tentang malam itu. Dia mengira aku marah kepadanya, tidak, aku hanya kaget karena kelakuannya yang tak kusangka separah itu dan aku berusaha untuk memakluminya. Berhari-hari aku terdiam dan masih mencoba maklum. Oke kami sepakat untuk tidak membicarakan hal itu. Dan kita mulai mengobrol dan bertemu lagi.

Disinilah kami, tiga bulan sudah menjalin hubungan ini. Dia bilang akan menyudahi hubungan ini ketika sudah tiga bulan nanti. Dia katakan itu saat lepas kendali pada malam itu, dan setengah sadar. Karena kecewa denganku yang sifatnya tak sesuai dengan perkiraannya. Bukan karena aku bermain hati dengan perempuan lain, tetapi karena aku tak menepati kata-kata ku kepadanya. Aku was-was. Semoga saja tidak.

Tepat di hari ke-tiga bulan, entah kenapa emosi amarahku menggebu ketika mendengarnya mengoceh sepanjang perjalanan kami mencari tempat untuk makan di tengah kota sana. Tak biasanya seperti ini. Sampai sakit hatinya sekali lagi ketika aku meninggikan suaraku. Langsung saja kami pulang, dan aku meinta maaf. Sekali lagi.

Esoknya kami bertemu, mengobrol. Ada apa semalam. Dan tak hanya malam itu, tiga atau empat hari setelahnya pun masih saja emosiku tak terkontrol. Aku katakan padanya, setelah analisisku. Mungkin ini tanda-tandanya kami akan putus. Tuhan mengabulkan doanya pelan-pelan, dimulai dengan emosiku, dan akan datang konflik, dan dia pun emosi, kami berakhir. Dan katanya, dengan analisisnya. Mungkin ini sugesti dari diriku, ketika tau akan putus setelah tiga bulan. Jadi aku takut akan terjadinya hal itu. Dan aku mulai panik sendiri sehingga akhirnya aku tak terkontrol.

Tapi beberapa hari setelahnya, kami baik kembali. Dan keadaan berubah, entah kenapa. Dulu aku yang sering minta maaf, sekarang dia mulai minta maaf. Aku yakin padanya, dan harus yakin pada diriku sendiri. Harus bisa menahan diri untuk hubungan dan kepercayaan yang lebih baik. Banyak kata-kata terucap tak ditepati dari diriku. Sebisa mungkin aku menepati janjiku.

Kami sedang melanjutkannya. Semoga kami terus berlanjut hingga nanti sampai lama.

Mari berdoa.

Doa baik harus selalu di Amin-kan.

Aku penasaran dengan kelanjutan cerita diatas.

Gadis itu sedang kukenal. Wataknya menarik hati.




Akhir ini aku sadar, kenapa usahaku dulu begitu lancar saat mendekatinya dan seperti tak ada batu dijalan. Ternyata dia mengira kalau aku akan sama saja dengan lelaki lain yang mendekatinya sebelumku, yang hanya sementara. Katanya begitu. Jadi dia mengiyakan semua ajakanku untuk bertemu walau sekedar makan bersama ataupun menemaninya,  karena dia kira akhirnya akan sama saja seperti sebelumnya. Dia terjebak akan kata-katanya sendiri. Dia bilang ia benar-benar jatuh cinta padaku. Dia bilang aku ada kemiripan dengan lelaki yang empat tahun itu, dia merasakannya satu persatu. Aku tak masalah. Kemiripan bisa saja terjadi. Ini diriku, bukan lelaki empat tahun itu. Dia terjebak kata-katanya sendiri, dan aku bersyukur karena cintanya itu memang nyata. Tak seperti diriku. Aku baru jatuh cinta padanya setelah berjalan dua bulan menuju tiga bulan. Sebelumnya tidak terlalu, aku melindunginya karena dia pasanganku. Cukup disitu. Maaf. Tapi sekarang dia pasanganku dan aku mencintainya.

Pernah dia bilang kalau orang yang kita cintai itu sebenarnya ada disekitar kita, dekat dengan kita, tapi kita tak sadar ia ada disana. Sepertinya ada benarnya juga.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wish by Diplo ft. Trippie Redd